Rabu, 16 April 2014

Manusia dan Keadilan

Keadilan adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang. Menurut sebagian besar teori, keadilan memiliki tingkat kepentingan yang besar. John Rawls, filsuf Amerika Serikat yang dianggap salah satu filsuf politik terkemuka abad ke-20, menyatakan bahwa "Keadilan adalah kelebihan (virtue) pertama dari institusi sosial, sebagaimana halnya kebenaran pada sistem pemikiran" . Kebanyakan orang percaya bahwa ketidakadilan harus dilawan dan dihukum, dan banyak gerakan sosial dan politis di seluruh dunia yang berjuang menegakkan keadilan. Tapi, banyaknya jumlah dan variasi teori keadilan memberikan pemikiran bahwa tidak jelas apa yang dituntut dari keadilan dan realita ketidakadilan, karena definisi apakah keadilan itu sendiri tidak jelas. Keadilan intinya adalah meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya.
 Keadilan bisa juga diartikan sebagai pengakuan atas perbuatan yang seimbang, pengakuan secara kata dan sikap antara hak dan kewajiban. Setiap dari kita “manusia” memiliki “hak yang sama dan kewajiban”, dimana hak yang dituntut haruslah seimbang dengan kewajiban yang telah dilakukan sehingga terjalin harmonisasi dalam perwujudan keadilan itu sendiri.
Contohnya bila tidak adil kepada kedua belah pihak maka akan terjadi pertengkaran seperti memperebutkan laptop yang ada pada gambar tersebut mereka berebut untuk medapatkan barang tersebut.

Manusia dan kasih sayang



KELUARGA
Engkaulah nafasku
Yang menlindungiku di dalam hidupku
Kalian ajarkan aku menjadi yang anak yang lebih baik
Kalian tak pernah lelah
S’bagai pendamping dalam hidupku
Kalian berikan aku semua yang terindah

Aku hanya memanggil kalian keluargaku
Di saat aku kehilangan arah
Aku hanya mengingat kalian keluargaku
Jika aku telah jauh darimu

Ohh keluargaku

Senin, 18 November 2013

Letusan Merapi tak ada hubungannya dengan Sinabung

Sindonews.com – Letusan Gunung Merapi yang terjadi pukul 04.53 WIB Senin (18/11) kemungkinan merupakan letusan freatik (letusan gas). Letusan freatik terjadi tanpa ditandai dengan kenaikan aktivitas gunung. 

Pakar Kegunungapian UGM Dr Agung Harijoko mengatakan, letusan freatik itu penyebabnya adalah terjadinya pemanasan air hujan tertampung di dalam gunung. Karenanya, kemungkinan letusan bisa kembali terjadi.
 

“Data aktivitas vulkanik Merapi beberapa hari terakhir ini belum dirilis oleh BPPTK DIY, sehingga kami menganggap aktivitas Merapi masih normal. Jika kondisinya benar-benar normal, maka kemungkinan besar letusan Merapi tadi pagi ialah freatik. Apalagi beberapa hari kemarin, intensitas hujan di DIY cukup tinggi dan kemungkinan besar hujan deras juga terjadi di puncak Merapi,” ujar Agung, Senin (18/11/2013).

Agung menjelaskan, letusan freatik sangat mungkin terjadi karena kondisi puncak Merapi saat ini masih terbuka. Air hujan yang masuk hingga perut Merapi kemudian mengalami pemanasan oleh hawa panas yang dihasilkan magma.
 

Air yang terpanaskan ini kemudian menghasilkan uap yang makin lama akan semakin banyak dan memiliki energy yang cukup kuat.

“Akumulasi dari energi inilah yang bisa membuat terjadinya letusan dan menyemburkan material dari dalam perut Merapi," jelasnya.

Memang, lanjut Agung, jika dibandingkan dengan letusan magmatik atau letusan yang disebabkan karena produksi magma telah melebihi ambang batas, kekuatan letusan freatik jelas lebih kecil.

"Jadi letusan freatik masih mungkin terjadi lagi jika intensitas hujan di puncak Merapi masih tetap tinggi untuk beberapa hari ke depan,” papar Dosen Jurusan Teknik Geologi ini.

Menurut Agung, letusan Merapi tidak ada hubungannya dengan aktivitas Gunung Sinabung di Sumatera Utara yang juga sedang tinggi. Meski terhubung oleh lempengan Sumatera-Jawa, sifat kedua gunung tersebut termasuk suplai magma yang terjadi memiliki perbedaan.

“Pergerakan lempeng bumi memang mampu memicu terjadinya gempa tektonik. Dan secara teori, gempa tektonik bisa menjadi salah satu pemicu meletusnya gunung berapi. Namun selama suplai magma baru tidak terbentuk, kecil kemungkinan gunung berapi bisa meletus,” imbuhnya.

sumber : http://daerah.sindonews.com/read/2013/11/18/22/807180/letusan-merapi-tak-ada-hubungannya-dengan-sinabung

Senin, 11 November 2013

Periksa Genangan Air, Jokowi Masuk Selokan

Metrotvnews.com, Jakarta: Hujan yang mengguyur Jakarta beberapa hari terakhir, menimbulkan genangan air di beberapa daerah di Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo 'blusukan' memeriksa saluran air di titik timbulnya genangan air.

Tepat di Jalan Raya Lenteng Agung, Gubernur yang disapa Jokowi itu langsung turun dari mobil bersama rombongan SKPD memeriksa saluran air. Jokowi menemukan air yang tidak mengalir di saluran tersebut, lalu Jokowi memeriksa ke sisi lainnya untuk mengetahui penyebab terjadinya genangan air.

Jokowi melihat saluran air di sisi lainnya ternyata kering, Jokowi langsung melompat ke dalam selokan dan menemukan banyak sampah dalam selokan tersebut. "Tuh lihat, di dalam itu banyak sampah, makanya ada genangan," ujarnya di depan stasiun Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Senin (11/11).

Dari dalam selokan, Jokowi berbicara dengan Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Manggas Rudy Siahaan dan Kepala Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta Andi Baso yang berada di atas saluran air.

Jokowi menginstruksikan agar masalah sampah dan endapan lumpur yang ada dalam saluran harus segera dikerjakan. "Minggu besok, saya minta harus segera dikerjakan ya," kata Jokowi.

Sebelumnya, Jokowi menyampaikan bahwa daerah Tanjung Barat merupakan salah satu daerah paling tinggi genangan air ketika banjir. "Di sini titik yang paling tinggi genangannya. Coba bayangin sampe keras begini endapannya," ujar Jokowi.

sumber : http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/11/11/5/193818/Periksa-Genangan-Air-Jokowi-Masuk-Selokan

Senin, 04 November 2013

Polisi Bubarkan Tawuran Antar Remaja di Klender dan Tanjung Barat

Jakarta - Menjelang pagi hari, dua tawuran di dua lokasi berbeda kembali terjadi di Jakarta. Tawuran terjadi di Klender Jakarta Timur dan Tanjung Barat Jakarta Selatan.

Berdasarkan informasi dari TMC Polda Metro Jaya, Selasa (5/11/2013) dini hari, tawuran antar pemuda di Tanjung Barat terjadi pada pukul 03.30 WIB. Tawuran ini tak berlangsung lama karena polisi langsung membubarkan para peserta tawuran.

Sementara di Klender Jakarta Timur, tawuran terjadi di atas jembatan layang Klender yang menghubungkan Cakung dengan Duren Sawit. Petugas polisi kemudian membubarkan para pemuda tersebut.

"Itu anak-anak tanggung dari Cakung, Pulo Gadung, dan Duren Sawit. Sudah aman dan ada petugas yang masih berjaga," kata petugas Polsek Duren Sawit Briptu Jainudin saat dihubungi detikcom.

Belum diketahui penyebab dua tawuran ini terjadi. Namun sebelumnya, tawuran terjadi sekitar pukul 01.00 WIB di dekat sekolah Santa Maria, Jatinegara, Jakarta Timur, yang melibatkan remaja-remaja berusia tanggung.

Sumber : news.detik.com/read/2013/11/05/042320/2404060/10/polisi-bubarkan-tawuran-antar-remaja-di-klender-dan-tanjung-barat?9922032

Senin, 21 Oktober 2013

Dikerangkeng, Ngaku Sogok Satpol PP Rp 1 Juta Tak Mempan

Pengalaman razia Satpol PP juga sempat membuat kocar-kacir Sisca (bukan nama sebenarnya) dan kawan-kawannya. Jumat pagi pekan lalu, ibu dua anak yang tinggal di wilayah Taman Puring, Kebayoran, ini sedang ngejoki di Jalan Pattimura, Jakarta Selatan.


“Saya langsung kabur, tapi waktu itu ada banyak yang ditangkap, ada delapan orang,” kata Sisca kepada detikcom, Senin (26/8) malam lalu. 


Pelaksana Harian (Plh) Kepala Satpol PP Jakarta Pusat Amrin menyangkal keras tudingan joki yang menyogok aparatnya. Menurut Amrin joki tersebut membalikkan fakta. “Bohong itu,” tegas dia kepada detikcom, Kamis (29/8).


Amrin mengingatkan para joki kadang-kadang bikin isu yang tidak benar. “Mereka pada pintar ngarang,” ujarnya. Amrin memastikan jika ada anggotanya yang menerima sogokan dari joki pasti akan kena sanksi. “Itu haram betul. Enggak boleh itu, namanya penyuapan, dua-duanya bisa kena hukum,” kata dia. 


Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Sambodo Purnomo mengakui keberadaan joki jadi menumpulkan efektifitas peraturan. “Sedikit banyak jadi memperlemah sistem 3 in 1 sendiri, karena itu kan sebenarnya dibuat untuk mengurangi jumlah kendaraan yang melewati jalur tersebut. Tapi penanganan 3 in 1 itu enggak bisa polisi sendirian karena ini masalah sosial, jadi yang menangani adalah Pemda,” kata dia kepada detikcom, Kamis (29/8). 


Sementara itu pengamat transportasi Sekjen Institut Studi Transportasi (Instran) Achmad Izzul Waro mengatakan pada awalnya peraturan tentang 3 in 1 terbilang efektif, namun sayangnya tidak berlangsung lama. 


Salah satu penyebab ketidakefektifan 3 in 1, kata Achmad, adalah penerapan yang tidak tegas dari pihak yang berwenang dalam hal ini kepolisian. “Banyak peraturan di bidang lalu lintas dibuat tapi pada faktanya dibiarkan dilanggar, terjadi pembiaran pelanggaran sehingga masyarakat terbiasa melanggar,” ujar dia kepada detikcom, Kamis (29/8).


Sumber : news.detik.com/read/2013/08/29/161749/2344392/10/2/dikerangkeng-ngaku-sogok-satpol-pp-rp-1-juta-tak-mempan

Senin, 14 Oktober 2013

'Bullying' Mengganggu Masa Depan

Anak yang sering menjadi korban 'bully' atau gangguan fisik dan mental dari orang sekitar, akan menghadapi berbagai masalah kesehatan dan persoalan pribadi di masa depan. Studi baru menemukan hasil merugikan dari bully antara lain, penyakit serius, sulit bertahan dalam pekerjaan, dan hubungan sosial yang buruk.

Dalam jurnal Psychological Science, pertengahan Agustus lalu, bullying tak hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga dapat menimbulkan masalah kesejahteraan dan sosial. Penelitian pun dilakukan meliputi korban bullying, pelaku bullying, dan korban sekaligus pelaku.

"Kita tidak bisa mengabaikan intimidasi yang membahayakan dan tak terelakkan sebab akan menjadi bagian dari pertumbuhan hingga dewasa. Kita perlu mengubah pola pikir dan mengakui bahwa bullying adalah masalah serius bagi individu bahkan negara secara keseluruhan. Bullying memiliki efek jangka panjang dan signifikan," kata Dieter Wolke, profesor dari University Medical Center.

Korban bully mengalami risiko kesehatan terburuk ketika mereka dewasa. Enam kali lebih mungkin terdiagnosa penyakit serius, perokok berat, dan beresiko gangguan jiwa. Mereka adalah kelompok paling rentan karena emosi mereka tidak teratur, tidak ada dukungan untuk mengatasinya.

Wolke mengatakan, "Kasus bullying dapat menyebar bila tidak diatasi. Aturan memang tersedia di sekolah, tetapi harus ada alat baru untuk membantu tenaga profesional kesehatan untuk mengidentifikasi, memantau, dan mengurus efek buruk dari bullying."

Hasilnya, resiko terburuk dialami oleh para korban bullying. Namun, baik korban, pelaku, dan korban sekaligus pelaku, semuanya memiliki resiko dua kali lebih tinggi mengalami kesulitan dalam mempertahankan pekerjaan dan sulit menabung. Dengan demikian, cenderung untuk mengalami kemiskinan di masa dewasa.Mereka juga akan kesulitan membentuk hubungan sosial baik untuk menikah maupun mempertahankan persahabatan jangka panjang.

sumber: http://forum.kompas.com/love-talk/294937-bullying-mengganggu-masa-depan.html